DETEKSI
DINI KANKER PAYUDARA
Kanker
payudara adalah jenis kanker yang sering diderita kaum wanita, bahkan menduduki
peringkat pertama untuk penyakit kanker di Indonesia. Kaum pria juga dapat
terserang kanker payudara walaupun lebih kecil kemungkinannya 1 : 1000.
Kebanyakan penderita kanker payudara datang terlambat karena beberapa alasan
antara lain karena terlambat menyadari adanya perubahan pada payudaranya dan
tidak merasakan nyeri pada payudaranya. Banyak pasien juga memilih pengobatan
alternatif dengan biaya yang mahal karena takut kehilangan payudaranya dan
ujung – ujungnya berakhir dengan semakin parah kondisi penyakitnya dan tidak
jarang yang sudah memasuki stadium akhir ketika datang ke dokter.
Gejala kanker payudara yang paling
sering dirasakan pasien adalah benjolan pada payudara. Benjolan kanker umumnya
tidak terasa nyeri kecuali jika telah memasuki stadium lanjut sehingga pasien
terlambat datang ke dokter karena tidak merasa terganggu. Gejala yang lain adalah
adanya eksem pada puting susu dan keluarnya cairan dari puting susu. Cairan ini
dapat berwarna merah (bloody) maupun
bening (watery). Cairan merah belum
tentu berasal dari sel kanker karena dapat disebabkan oleh kelainan yang jinak.
Cairan yang bening ditandai dengan BH yang selalu basah. Pasien juga sering
datang dengan kondisi payudara yang sudah mengalami borok dan ini menandakan
penyakit yang sudah lanjut.
Karena seringnya pasien datang dalam
stadium lanjut, maka sangat penting untuk mengenali gejala kanker tersebut
melalui deteksi dini. Hal ini bisa dicapai melalui skrining dengan mamografi
maupun SADARI dan mengenali faktor risiko timbulnya kanker payudara. Mamografi
merupakan pemeriksaan radiologi yang mahal dan tidak semua orang bisa
melakukannya. Cara yang lebih efektif dari segi biaya adalah dengan SADARI
(Periksa Payudara Sendiri). SADARI dilakukan pada hari kelima sampai ketujuh
setelah menstruasi hari terakhir (bersih) karena pada saat itu payudara
berkembang maksimal sehingga lebih memudahkan untuk meraba bila terdapat
benjolan. Pemeriksaan dilakukan di depan kaca dengan sebelah tangan terangkat
dan tangan yang lain meraba payudara dengan gerakan memutar dari pusat ke tepi
atau sebaliknya. Pemeriksaan ini dapat juga dilakukan dengan gerakan radier
maupun vertikal naik turun berurutan.
Mengenali faktor risiko timbulnya
kanker payudara juga penting agar kita bisa lebih waspada meskipun tidak semua
faktor risiko itu bisa dihindari. Faktor risiko tersebut antara lain adalah:
-
Riwayat keluarga pernah
menderita kanker payudara.
-
Faktor hormonal antara
lain menstruasi pertama pada usia kurang dari 12 tahun, menopause pada usia
lebih dari 55 tahun, penggunaan pil KB lebih dari 10 tahun, penggunaan Terapi
Sulih Hormon lebih dari 5 tahun, usia melahirkan anak pertama lebih dari 30
tahun, dan wanita yang tidak mempunyai anak. Menyusui merupakan faktor yang
bisa menurunkan risiko.
-
Riwayat radioterapi
pada waktu remaja.
-
Obesitas.
-
Diet tinggi kalori dan
lemak terutama yang berasal dari kolesterol. Di sisi lain diet tinggi sayur,
buah – buahan, vitamin E dan C merupakan faktor yang menurunkan risiko.
Pengobatan
kanker payudara merupakan terapi multimodalitas yang merupakan gabungan dari
operasi, kemoterapi, radioterapi, hormonal terapi, maupun targeted terapi,
tergantung dari jenis kanker. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa
operasi bukanlah terapi satu – satunya dan operasi merupakan pintu untuk
penanganan kanker selanjutnya dalam jangka panjang.
Demikian Informasi tentang deteksi dini kanker payudara. semoga bermanfaat bagi umat.
dr. Azril Okta Ardhiansyah SpB
RSIA Cempaka Putih Permata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar